Superstage's Heaven
My thoughts actually, unfiltered. A place to record and unload things that I stored in my memories and from the circuits of an ageing pc located somewhere in Shah Alam, Malaysia. "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis” - Imam Al-Ghazali
Isnin, Mac 16, 2026
Keagungan Kalimah Tahmid yang Tiada Tolok Bandingnya
Ahad, Mac 15, 2026
When Law Enforcement Becomes a Political Hostage
The ongoing land encroachment issue involving the illegal construction of a religious structures (kovil) has exposed a deep-seated rot in our administrative system: the paralysis of enforcement due to political interference. When Local Authorities (PBT) prioritize endless "negotiations" over their legal mandate, they are not merely exercising diplomacy—they are compromising the integrity of the state for the sake of political expediency.
Enforcement Officers or Political Brokers?
In this controversy, the core issue is not religious; it is about land rights and the Rule of Law. When land belonging to another party—be it an individual, a corporation, or the state—is seized and built upon illegally, legal action under the National Land Code and other relevant laws should be automatic. It should require neither permission nor political consensus.
Yet, we are witnessing a tired, recurring script. The authorities hesitate, hiding behind the rhetoric of "sensitivity" and "the need for dialogue." Since when did "sensitivity" supersede the sanctity of the law? When a Local Authority weighs political gains and losses before dismantling an illegal structure, they cease to function as public servants and begin acting as political brokers, betraying the public trust.
Analysis: Why Authorities Must Stop Playing Politics
1. Justice is Not a Negotiable Commodity
The duty of a Local Authority is clear: to ensure regulations are upheld. By delaying action in the name of "political diplomacy," authorities are effectively siding with the encroachers and victimizing the legitimate landowners. Justice delayed is justice denied.
2. The Pitfalls of Populist Governance
The "soft" approach taken by authorities in this encroachment case only invites anarchy. If one group is permitted to seize land in Sentul under the guise of political sensitivity, what is to stop others from doing the same elsewhere? By refusing to act, authorities are setting a dangerous precedent where encroachment is viewed as a "shortcut" to establishing rights.
3. Decisiveness as a Civil Service Identity
Public servants should not be puppets for interest groups or political figures. They are funded by taxpayers to enforce the law without fear or favor. When authorities appear too intimidated to act in Sentul, they send a message that the law in this country is flexible—provided one has enough political leverage.
Conclusion: Do Not Let the Sword of Justice Become a Mere Ornament
Enough of the charades at the negotiation table. The Sentul issue is more than just a dispute over a plot of land; it is a test of the nation’s administrative dignity. Local Authorities must cease playing politics and return to their original function as the guardians of the Rule of Law.
An enforcement office should never double as a "political operations room" where legal actions are filtered through the lens of popularity. Allowing land encroachment to happen in plain sight is the most blatant form of integrity corruption.
The law is like a sword; to uphold justice, it must be unsheathed and firmly planted. If authorities continue to merely "wave" the sword without acting, they should not be surprised when the public loses respect for the law. We cannot allow the nation to turn into a chaotic marketplace where rules are optional and leadership is non-existent.
Stop the politics. Enforce the law. Now.
Key Takeaways:
Administrative Integrity: Officers must separate professional duty from political pressure.
Landowner Rights: Legal land ownership is absolute and cannot be violated under the pretext of "dialogue."
Firmness: Uncompromising enforcement is the only cure for the growing epidemic of illegal land encroachment.
Sabtu, Mac 14, 2026
Hikayat Batu di Tengah Jalan
Selasa, Mac 10, 2026
Ayah, Kabel Ethernet dan Falsafah Lupa
Lupa itu bukan sekadar penyakit. Lupa itu adakalanya sebuah pilihan. Atau mungkin, lupa adalah satu-satunya cara untuk terus bertahan hidup.
Pukul 9.15 pagi. Telefon bimbit Haji Yusof bergetar di atas meja kayu yang sejuk. Di skrin, tertera nombor sambungan dalaman 6191. Bahagian Pelan. Encik Aris.
Jumaat, Mac 06, 2026
QARIB IV
Di Antara Doa dan Penantian
Bunyi tayar kerusi roda itu membelah sunyi malam yang kian mendingin. Rafie menolak Aina perlahan-lahan. Puteri kecilnya itu, yang baru berusia lima tahun, sudah setahun lebih anak itu kehilangan nikmat berlari. Doktor berbicara tentang atrofi otot, tentang saraf yang enggan bekerja, tentang rawatan yang panjang namun tanpa sebarang jaminan. Di mata manusia, Aina adalah sebuah "kegagalan" biologi, namun di mata Rafie, Aina adalah amanah paling indah yang sedang diuji.
Setiap malam, usai Isyak, Rafie akan bersimpuh di sisi katil Aina. Tangannya yang kasar dek kerja sebagai buruh itu akan mengusap lembut dahi anaknya, seolah-olah mahu menyalurkan setiap kekuatannya ke dalam tubuh kecil itu.
"Ya Allah," rintihnya, "sembuhkanlah Aina. Biar kakinya mampu memijak bumi-Mu dengan gagah. Biar dia mampu mengejar rama-rama di taman, dan lari ke pelukanku saat aku pulang..."
Namun, hari demi hari berlalu, doa itu seakan-akan melantun jatuh ke lantai. Tiada keajaiban. Tiada perubahan.
Malam kelima Ramadhan, suara imam di surau mengalunkan sepotong ayat yang seolah-olah sengaja ditujukan buat hatinya yang sedang lara:
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku..."
Rafie tersentak. "Aku mengabulkan." Janji itu kedengaran begitu mutlak. Namun, di sudut hatinya yang gelap, satu bisikan halus mula merayap: "Jika Allah itu dekat, dan Dia berjanji mengabulkan, mengapa kakiku masih menolak kerusi roda ini? Mengapa tangisanku setiap malam belum mendatangkan kesembuhan?"
Dia duduk di serambi surau usai terawih, memerhatikan dunia yang terus berputar tanpa mempedulikan lukanya. Dia teringat kata-kata isterinya tentang hikmah, namun sabarnya terasa seumpama tali yang sudah hampir putus.
Hinggalah dia teringat akan sebuah analogi—seorang ibu yang tidak mahu memberikan pisau kepada anaknya yang merengek mahukan alat tajam itu untuk memotong buah. Si ibu tahu, pada saat itu, pisau itu bukan bantuan, tetapi bahaya. Si ibu bukan benci, tetapi terlalu sayang.
Mungkin, fikir Rafie, Allah sedang melakukan hal yang sama. Allah mendengar, tetapi Allah sedang merencanakan sesuatu yang jauh melampaui logik akal manusia. Sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Baqarah, ayat 216:
"...boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."
"Maafkan aku, Ya Allah," bisik Rafie ke langit malam.
"Aku hanya nampak apa yang di depan mata, tapi Engkau melihat hingga ke hujung masa."
Fajar Ramadan menyinsing dengan warna jingga yang tenang. Rafie mendudukkan Aina di beranda rumah, membiarkan angin pagi menyapa pipi anaknya yang kemerah-merahan.
"Ayah, tengok burung tu! Aina nak terbang macam burung," kata Aina dengan mata bulat yang bersinar.
Rafie tersenyum hiba. Dia mengucup dahi Aina. "Sabar ya sayang. Suatu hari nanti, di tempat yang lebih indah dari dunia ini, Aina bukan saja boleh berlari, malah boleh terbang di atas sungai-sungai madu."
Ayat itu sebenarnya adalah ubat buat dirinya sendiri. Dia mula memahami bahawa doa bukan semata-mata 'mesin layan diri' - masukkan permintaan, keluar barangnya. Doa adalah satu bentuk penyerahan total.
Allah menyebut "Ujibu" (Aku perkenankan).
Namun, Allah tidak menyebut "Bila" dan "Bagaimana".
Mungkin kesembuhan Aina bukan di dunia yang fana ini. Mungkin setiap hari Aina di atas kerusi roda, beribu dosa Rafie dan isterinya digugurkan. Mungkin Aina adalah "tiket" yang sedang Allah siapkan untuk menarik tangan ibu bapanya masuk ke Syurga tanpa hisab.
Dia kembali membuka Al-Quran, matanya terpaku pada hujung ayat 186 itu:
"...maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk."
"Beriman kepada-Ku." Rafie sedar, beriman bukan hanya saat nikmat melimpah, tapi beriman saat takdir terasa pahit.
Beriman bahawa ketentuan Allah adalah yang paling sempurna, tidak pernah terawal walau sesaat, dan tidak pernah terlewat walau seketika.
Malam itu, Rafie tidak lagi berdoa dengan nada mendesak. Dia berdoa dengan nada rindu.
"Ya Allah, jika kesembuhan itu baik untuk dunia dan akhirat Aina, maka kurniakanlah. Namun, jika sakit ini yang membawa kami lebih dekat kepada-Mu, maka berilah kami kekuatan untuk menanggungnya. Aku redha, Ya Allah. Aku percaya pada-Mu."
Dia memandang wajah Aina yang sedang lena. Di bawah remang lampu kamar, wajah itu tidak lagi nampak seperti beban, tetapi nampak seperti rahmat yang terbungkus dalam ujian. Dia tahu, Allah sedang mendengar. Dia tahu, Allah sangat dekat. Dan itu sudah memadai.
Hatinya yang tadinya berkecamuk dengan badai persoalan, kini tenang seumpama tasik yang tidak bergelombang. Ramadan kali ini mengajarnya bahawa mukjizat terbesar bukan selalunya apabila penyakit disembuhkan, tetapi apabila hati yang hancur diberikan kekuatan untuk kembali tersenyum.
"Syukur, Ya Rabb, kerana memilihku untuk ujian ini," bisiknya sebelum mematikan lampu, meninggalkan kegelapan yang kini terasa penuh dengan cahaya ketenangan.
In memory of my cousin, Allahyarhamah Sabrina, insan yang kekal OKU sedari kecil sehinggalah nafasnya yang terakhir. AlFatihah. Because of her, diri ini faham erti rida dengan ketentuan Allah & tidak banyak komplen.
Khamis, Mac 05, 2026
Memacak Kovil Haram
- Menghalang laluan utama ke hospital.
- Menyukarkan ambulans dan pesakit kecemasan untuk masuk ke hospital.
- Menyebabkan kesesakan lalu lintas.
Rabu, Mac 04, 2026
Bab 1 – Api di Baghdad
1258 Masihi.
Baghdad, permata dunia Islam, kini menjadi neraka yang terbuka. Langit dipenuhi asap hitam, bumi bergegar oleh derap kuda Mongol.
Hulagu Khan berdiri megah di tebing Sungai Tigris. Tubuhnya tegap, berperisai kulit keras, wajahnya dingin, matanya biru bagaikan laporan ais padang rumput. Di tangan kirinya pedang berat yang telah bermandi darah.
Tentera Mongol berarak melalui lorong-lorong Baghdad, menembusi kota dengan pedang, panah, dan tombak. Jeritan bergema, darah mengalir ke sungai hingga Tigris menjadi merah.
Hulagu menoleh pada panglima:
“Hancurkan semua! Tiada belas untuk siapa pun yang menentang Borjigin!”
Di istana, Khalifah Al-Musta’sim berlutut, memohon:
“Ampunkan kami, Tuan Hulagu. Kami tunduk.”
Hulagu menatap dingin:
“Tunduk? Tunduk tidak menyelamatkan darah yang telah ditumpahkan ke atas utusan kami. Mati!”
Dan Khalifah dibunuh di depan para pegawainya. Perpustakaan Dar al-Hikmah dibakar, menelan musnah ilmu ratusan tahun. Umat Islam terdiam membisu, menyangka kiamat telah tiba.
Bab 2 – Berke Khan dan Hidayah
Di padang stepa Volga, Berke Khan, cucu Genghis Khan dan pemimpin Golden Horde, menunggang kuda di antara salji. Dia seorang yang tegap, berwajah keras namun mata menimbang dan menilai dunia.
Di Bukhara, dia bertemu seorang ulama sufi: Syekh Saifuddin al-Bakharzi. Wajah Syekh lembut, tatapannya menenangkan.
“Wahai Berke Khan,” kata Syekh.
“Engkau menguasai bumi, tetapi adakah engkau menguasai hatimu sendiri?
Berke terdiam. Selama ini, dia hanya mengenal pedang dan darah.
“Hidupku hanyalah sebagai menakluk,” jawabnya lirih.
“Apakah itu salah?”
Syekh tersenyum:
“Menakluk dunia tidak setara dengan menakluk jiwa sendiri. Jika engkau menguasai hati, dunia seisinya akan mengikuti.”
Malam itu mereka berbincang panjang. Tentang Tuhan, amanah, dan tanggungjawab. Hati Berke retak dan terbuka. Esoknya, ia melafazkan syahadah:
“Aku naik saksi, tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad itu utusan-Nya.”
Padang ragut stepa Volga menjadi saksi cucu Genghis Khan pertama memeluk Islam. Hatinys yang keras mulai lembut, jiwanya kini tenteram.
Bab 3 – Sumpah dan Balas Dendam
Beberapa minggu kemudian, Berke menerima berita Baghdad hancur. Khalifah dibunuh, umat Islam dibantai. Pelakunya: sepupunya sendiri, Hulagu Khan!
Berke menutup mata, menggenggam pedangnya. Darahnya mendidih bukan kerana kesetiaan suku, tetapi kerana persaudaraan Islam.
“Dia membunuh Khalifah umat Islam… tanpa sebab!” serunya.
“Demi Allah, aku akan menuntut bela atas darah yang tumpah itu!”
Berke mengumpulkan panglima:
“Kita akan melawan sepupu kita, bukan untuk tanah, bukan untuk harta, tetapi untuk iman!”
Pakatan dibentuk dengan Sultan Mamluk Mesir. Strategi digabung: mengepung Hulagu dari dua arah, tujuan utamanya untuk menyelamatkan Mekah dan Madinah daripada diserang.
“Ini kali pertama pedang Mongol bertemu pedang Mongol untuk membela agama, bukan untuk dendam antara suku,” kata seorang panglima sambil memandang Berke.
Bab 4 – Perang Saudara Mongol
Di pergunungan Kaukasus, ribuan tentera Berke dan Hulagu bertempur. Panah meluncur, tombak beradu, kuda meraung. Salji merah oleh darah, angin menusuk tulang.
Berke menunggang kuda tinggi di tengah medan:
“Maju! Demi Islam, demi syuhada!”
Tentera Golden Horde mara seperti badai. Hulagu menjerit dari atas kuda:
“Saudara, kenapa engkau melawan aku? Kita Borjigin!
“Saudara bukan lebih berhak membunuh rakyat tanpa belas!” teriak Berke, pedangnya mengayun.
Pertempuran sengit selama berhari-hari. Hulagu terpaksa mengundur ke arah Syria. Mekah dan Madinah terselamat dari ancaman Mongol.
“Lihatlah,” kata Berke, napasnya tersengal.
“Allah menolong kita bukan dengan kekuatan suku, tetapi dengan iman.”
Bab 5 – Legasi Islam Mongol
Generasi selepas Berke meneruskan Islamisasi:
Ghazan Khan memeluk Islam, membawa kestabilan di Persia.
Tughluq Timur menjadikan Islam agama rasmi di Asia Tengah.
Dinasti Mughal di India muncul, membina masjid agung dan istana indah.
Bangsa yang dulu perosak dunia, kini pembina tamadun Islam. Hati yang pernah keras, tunduk oleh cahaya hidayah.
“Tiada musuh yang terlalu kejam untuk diberi cahaya Allah,” kata seorang ulama.
Epilog
Sejarah membuktikan:
Hidayah mampu menundukkan hati paling kejam sekalipun.
Islam tidak menang hanya dengan pedang, tetapi dengan kebenaran yang menundukkan hati manusia.
Bangsa Mongol yang dulu menghancurkan Baghdad kini menjadi pelindung agama dan pembina tamadun.
Padang rumput Mongolia, Bukhara, dan seluruh Asia Tengah menyaksikan satu perubahan yang ajaib — kekerasan disulap menjadi iman, pedang menjadi perisai kebenaran.
Selasa, Mac 03, 2026
QARIB III : Cermin Hati
QARIB III : Cermin
Di sudut bilik yang dihuni sepi, Fatimah terpaku di hadapan sebuah cermin warisan. Cermin itu punya sejarah; bingkai kayu jati berukir motif awan larat, peninggalan arwah neneknya yang sudah dimakan usia. Di bahagian bawahnya, ukiran itu sedikit mereput, namun kacanya masih teguh berdiri, membiaskan wajah-wajah yang pernah singgah di hadapannya selama berpuluh tahun.
Namun, pagi itu ada sesuatu yang mengusik jiwa Fatimah.
Cermin itu kelam. Bukan kerana cahaya bilik yang malap, tetapi kerana lapisan habuk yang menebal. Begitu tebal sehingga bayangan wajahnya sendiri kelihatan samar, seolah-olah dia sedang melihat dirinya dari dasar sungai yang keruh. Fatimah mengangkat jemari, menyentuh permukaan kaca itu. Jalur hitam melekat di hujung jari. Dia mengelap sedikit ruang, menampakkan sepasang mata yang kian layu.
"Sudah terlalu lama aku biarkan ia begini," bisiknya pada sunyi.
Tatkala itu, sepotong analogi menerjah benak hatinya. Dosa itu persis habuk-habuk ini. Ia tidak datang sebagai bongkah batu yang besar secara tiba-tiba. Ia datang dalam zarah yang halus, terbang ditiup angin kelalaian, lalu hinggap satu demi satu tanpa kita sedari. Jika tidak disapu setiap hari, ia mengeras, menjadi kerak, dan akhirnya menukarkan cermin yang jernih menjadi dinding yang gelap.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surah Al-Mutaffifin, ayat 14:
كَلَّاۖبَلْۜرَانَعَلَىٰقُلُوبِهِممَّاكَانُوايَكْسِبُونَ
"Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka (seperti karat/debu)."
Fatimah tersandar di birai jendela. Di luar, sesekali kedengaran dentuman mercun budak-budak kampung, namun fikirannya terbang jauh ke dalam lubuk diri. Ramadhan kali ini terasa berbeza. Mungkin kerana parut kehilangan orang tersayang tahun lalu masih berdenyut, atau mungkin kerana Tuhan sedang menjemputnya kembali.
Dia teringat ayat 186 Surah Al-Baqarah yang dibacanya semalam. Ayat tentang dekaynya Allah.
"Allah itu dekat," rintih hatinya. "Tetapi mengapa aku yang terasa jauh? Mengapa antara aku dan Penciptaku seolah ada tembok yang tak terlihat?"
Jawabannya ada pada hujung jari yang hitam dengan habuk tadi. Dosa. Bukan dosa besar yang menggemparkan dunia, tetapi 'habuk-habuk' kecil yang sering diremehkan: pandangan mata yang tidak dijaga, lidah yang tajam menghiris hati manusia, solat yang sekadar melepaskan batuk di tangga, serta hati yang masih berpaut pada daki dunia.
Itulah tabirnya. Itulah hijabnya.
Keesokan harinya, sebelum fajar menyinsing sepenuhnya, Fatimah sudah berdiri tegak. Selepas bersahur ringkas bersama ibunya, dia mengambil sehelai kain putih dan cecair pembersih. Dengan penuh tertib, dia mula menggosok cermin neneknya.
Setiap sentuhan kain itu pada kaca seolah-olah satu gerakan zikir. Sedikit demi sedikit, kekeruhan itu hilang. Jalur-jalur habuk mengalah pada kesungguhannya. Akhirnya, cermin itu kembali bersinar, memantulkan cahaya matahari pagi yang menyusup masuk melalui celah langsir. Fatimah tersenyum melihat wajahnya yang kini jelas, mata yang penuh pengharapan, wajah yang mula tenang.
"Begitu jugalah hati," bisiknya sendirian.
Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar, tetapi bulan 'detoksifikasi' jiwa. Ia adalah masa untuk menggosok semula karat yang melekat di hati agar cahaya Qarib (Kedekatan) Allah dapat menembus masuk ke dalamnya.
Dia kembali menyelami ayat kegemarannya:
وَإِذَاسَأَلَكَعِبَادِيعَنِّيفَإِنِّيقَرِيبٌۖأُجِيبُدَعْوَةَالدَّاعِإِذَادَعَانِ
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku..."
Fatimah menyedari satu hakikat agung: Allah tidak pernah menjauh. Cahaya matahari sentiasa ada di luar tingkap, namun jika cermin itu berhabuk, bilik akan tetap gelap. Allah sentiasa menunggu, namun jika hati dipenuhi daki maksiat, kita tidak akan merasai kehadiran-Nya.
Malam itu, di keheningan sepertiga malam, Fatimah bersujud panjang. Air matanya luruh, membasahi sejadah. Bukan lagi air mata duka, tetapi air mata pembersihan.
"Ya Allah," rintihnya dalam bahasa yang paling jujur. "Aku ini hamba-Mu yang sering tersungkur. Siang hari aku berpaling daripada-Mu, namun malam hari aku merangkak meminta Syurga-Mu. Aku tahu aku tidak layak, namun aku tidak punya tempat kembali selain Engkau. Janganlah Engkau biarkan hatiku kembali berkarat."
Tiba-tiba, dia teringat pesanan arwah neneknya: "Fat, Matahari sentiasa menyinar. Kalau bilik kau gelap, jangan salahkan matahari. Periksa tingkap kau, mungkin kau sendiri yang tutup langsirnya, atau kau biarkan habuk menutup kacanya."
Kini dia faham. Taubat itu bukan kerja sekali jalan. Ia adalah rutin harian. Sebagaimana dia perlu mengelap cermin itu setiap pagi agar tidak kembali kusam, begitu jugalah dia perlu beristighfar setiap waktu agar hatinya sentiasa jernih memantulkan nur Ilahi.
Fatimah memandang cermin itu sekali lagi. Di dalam biasan kaca yang bersih itu, dia melihat seorang wanita baru - seorang hamba yang telah menemukan jalan pulang ke pelukan Tuhannya yang Maha Dekat. QARIB.
Khamis, Februari 26, 2026
QARIB II : Gema di Keheningan Malam
Malam kian melabuhkan tirainya, membawa bersama kedinginan yang membalut sunyi. Di kamar kecil itu, Hasyim sengaja membiarkan tingkapnya terbuka sedikit. Dia membiarkan angin malam Ramadan menerobos masuk, menyelinap di celah tirai yang kusam. Hasyim duduk bersila di atas sejadah tua yang menjadi saksi bisu segala sujudnya; sejadah yang sudah menipis dan berubah warna di bahagian lutut, seolah-olah menceritakan ketaatan yang masih tersisa.
Tangannya masih menggenggam telefon, namun jiwanya sudah berkelana jauh ke ufuk yang tidak bertepi. Di Kampung Sakinah, orang tua-tua sering berpesan bahawa angin Ramadan ini punya "ruh". Ia bukan sekadar udara yang bergerak, tetapi ia adalah teguran halus yang menusuk hingga ke tulang sumsum, memaksa setiap insan yang bersunyi-sunyian untuk bertanya kepada diri sendiri:
"Di manakah aku di sisi Penciptaku?"
Hasyim terdiam. Matanya tadi leka menatap skrin, memerhati cebisan hidup manusia lain - gambar perkahwinan yang gah, promosi baju raya yang berwarna-warni, serta potongan ceramah yang lalu lalang tanpa sempat singgah ke lubuk hati. Namun, jarinya kaku apabila satu imej muncul. Hanya teks ringkas di atas latar hitam putih.
Surah Al-Baqarah, Ayat 186.
Dia membacanya perlahan, mengikut makhraj yang pernah diajar oleh Allahyarham Ustaz Fadzial sewaktu dia belajar di MRSM Jasin dahulu.
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku..."
"Qarib," bisik Hasyim. Suaranya pecah di celah kesunyian.
Perkataan itu bukan asing, namun malam ini ia terasa seperti satu penemuan baru. Dekat.
Namun, sejauh mana dekatnya Tuhan itu?
Hasyim memandang sekeliling kamarnya yang bersepah. Katil yang tidak berkemas, timbunan baju yang melambangkan kemalasannya, dan telefon di tangan yang sering menjadi pintu kepada lagha dan maksiat mata. Semua itu dekat dengannya secara fizikal. Namun, dia merasakan ada "Kedekatan" lain yang sedang menghampiri—suatu kehadiran yang tidak memerlukan ruang, namun memenuhi setiap ruang.
Dia teringat akan asbabun nuzul (sebab turunnya) ayat tersebut. Apabila para sahabat bertanya, "Adakah Tuhan kami dekat sehingga kami cukup berbisik, atau Dia jauh sehingga kami perlu berteriak?" Allah tidak menjawab melalui lisan Nabi dengan kata "Katakanlah", tetapi Allah terus menjawab:
"Sesungguhnya Aku dekat."
Dada Hasyim sebak. Air mata yang sekian lama kering mula bertakung. Selama ini dia menyangka Allah berada tinggi di singgahsana arasy, mentadbir galaksi. Rupanya dia silap. Allah hadir dalam setiap hela nafasnya.
Dia teringat satu lagi janji Allah dalam Surah Qaf, ayat 16:
"...dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya."
Hasyim meraup wajahnya. Malu menyelubungi diri. Selama ini, bila dia buntu, dia mencari manusia. Bila dia lapar, dia mencari harta. Bila dia sunyi, dia mencari hiburan dunia. Dia mencari yang jauh, sedangkan yang Paling Dekat sedang menanti untuk disapa.
Hasyim terus menelusuri aplikasi Al-Quran itu. Dia menyedari sesuatu yang ajaib tentang susunan wahyu. Ayat 186 itu diapit oleh ayat-ayat tentang puasa. Ayat 183 berbicara tentang kewajipan, manakala ayat 185 berbicara tentang keagungan Al-Quran dan kemudahan syariat.
Namun, di tengah-tengah bicara tentang lapar, dahaga, dan hukum-hakam, Allah selitkan tentang Doa.
"Kenapa di sini?" fikir Hasyim.
Rupanya, bulan Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar perut, tetapi bulan untuk "menyambung talian". Saat fizikal lemah kerana lapar, saat itulah ruhani paling kuat untuk mendaki ke langit. Doa ketika berpuasa adalah doa yang tidak mempunyai hijab.
"...maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka mendapat petunjuk."
Kata-kata itu bagai petir yang menyambar ego Hasyim.
Selama ini dia sering merungut, "Kenapa doaku tidak makbul?" atau "Kenapa hidupku masih begini?"
Al-Quran menjawab balik pertanyaannya: "Adakah kau sudah menjawab seruan-Ku?"
Hasyim tunduk merenung lantai simen biliknya. Dia seolah angkuh menuntut Tuhan untuk mendengar rayuannya, tetapi dia sendiri sering memekakkan telinga terhadap azan yang berkumandang. Dia mahu Allah mengubah nasibnya, tetapi dia sendiri tidak mahu mengubah sujudnya. Dia mahu layanan 'VIP' daripada langit, sedangkan dia melayan Penciptanya seperti pilihan terakhir apabila semua pintu dunia sudah tertutup.
"Malu, ya Allah... Malu sangat," rintihnya.
Dia melihat ke luar tingkap lagi. Langit malam yang gelap pekat itu kini tidak lagi terasa menyeramkan. Ia terasa seperti satu pelukan. Angin yang membawa bau tanah basah itu seolah-olah membawa berita gembira bahawa rahmat Allah itu luas, seluas bumi yang disirami hujan.
Ramadan mungkin belum bermula secara rasmi di kalendar, tetapi dalam hati Hasyim, hilal (anak bulan) taubat sudah pun terbit. Dia mematikan telefon bimbitnya, meletakkannya jauh ke tepi, lalu perlahan-lahan mengangkat takbir.
Di keheningan malam itu, di atas sejadah kusam, Hasyim mula berbisik. Bukan lagi berteriak mencari Tuhan yang jauh, tetapi berbisik kepada Dia yang Sangat Dekat.
"Ya Allah, sesungguhnya aku kembali..." QARIB.
Warkah Pelaburan: Di Sebalik Kilauan Perak dan Emas
Segalanya bermula sedekad yang lalu. Apabila isteri tercinta kembali ke rahmatullah, dunia seakan terhenti seketika. Selera untuk menjamah hidangan hilang, malah keinginan untuk berbelanja demi kesenangan diri juga kian pudar. Dalam fasa duka yang mendalam itu, saya mengalihkan tumpuan dengan menguruskan pendapatan secara lebih bermakna. Lebih separuh daripada gaji bulanan saya peruntukkan untuk pelaburan perak.
Niat saya hanya satu: menyediakan jaminan masa hadapan buat tiga orang puteri saya. Pada waktu itu, harga perak masih rendah, sekitar RM3,200 hingga RM3,400 sekilogram termasuk premium (extra kena bayar kalau nak fizikal). Saya membeli satu kilogram bagi setiap seorang anak perempuan. Selain itu, saya turut membina portfolio emas secara berperingkat melalui institusi perbankan pelaburan Kuwaiti Finance House sehingga terkumpul jumlah yang agak signifikan (Sayang sekali KFH dalam proses diambil-alih/jual lesen perniagaan & dah tak bileh tambah pembelian emas, hanya boleh jual sahaja). Bila saya berubah karier dan diberikan peluang masuk ke dunia IT, saya memulakan karier di Jabatan baharu dengan membuka akaun emas Maybank. Syukur, pelaburan minimum RM10 seminggu atau kadangkala sehari itu kini memberi pulangan melebihi 100 peratus.
Kini ramai yang menghampiri dan mahu berbaik dengan saya, dengan alasan nak pinjam duit. Namun saya akan bertanya kepada mereka, di manakah kalian semasa saya menderita sakit, dibiarkan keseorangan, hampir diberhentikan kerja, ditinggalkan pasangan, menjadi OKU? Pesanan Ustaz Isahak Othman, ketua warden asrama kepada saya sebelum saya meninggalkan MRSM sebaik tamat SPM - Kamu akan menuai apa yang kamu semai dan dunia ini adalah ladang untuk ke akhirat.
Sabar dalam Penantian
Pasaran komoditi ini pernah melalui fasa harga statik yang agak lama. Namun, landskap geopolitik dunia—bermula daripada konflik di Ukraine dan Palestin, dinamika kepimpinan era Trump yang pelbagai ragam tak ketentuan arah, ketegangan melibatkan Iran, sehinggalah kepada tindakan China yang giat menyimpan (stockpile) simpanan emas dan perak telah mengubah segala-galanya. Cubalah cari chanel Youtube dan baca sendiri - perak fizikal dipasaran menyusut secara drastik. Saya sendiri tak sempat nak tambah pelaburan kerana dimasukkan ke hospital. Ketika tu pada kiraan saya, perak pasti meroket. Tekaan saya tepat! Tapi saya hanya mampu tengok dari atas katil hospital. Health is wealth, too!
Kemuncaknya pada Januari tahun ini, harga perak melonjak sehingga mencecah RM17,000 sekilogram. Walaupun nilainya menggiurkan, saya tetap teguh dengan prinsip asal. Saya tidak menjualnya kerana simpanan itu adalah hak milik mutlak anak-anak saya. Mencari bar perak 100 gram di pasaran sekarang bukanlah satu tugas yang mudah. Ada satu perasaan berat untuk melepaskannya kerana sekali dijual, aset berharga itu akan hilang buat selama-lamanya. Susah nak dapatkan yang fizikal, dalam tangan dan bukan hanya turutan angka dalam akaun.
Rezeki dan Percaturan Takdir
Pertengahan tahun lalu, saya dihadapkan dengan satu persimpangan: sama ada ingin membeli lima kilogram perak atau sebidang tanah, memandangkan kedua-duanya bernilai sekitar RM29,000. Akhirnya, saya memilih hartanah sebagai aset. Tanpa disangka, menjelang Januari, 2026 nilai lima kilogram perak yang saya tidak beli itu melambung tinggi sehingga RM70,000! Walau bagaimanapun, saya reda. Sesungguhnya, rezeki itu telah ditetapkan oleh-Nya.
Hakikatnya, perak sangat diperlukan sebagai perhiasan yang terpaksa bersaing dengan industri untuk pembuatan photovoltaic cell (sell solar), bateri kenderaan EV, peralatan elektronik dan peralatan komunikasi, pusat data, satelit dan peralatan ketenteraan.
Nak kenaikan yang stabil - beli dan simpanlah emas, nak exponential growth yang jauh melangkaui peratusan kenaikan harga emas, kena invest kat perak walaupun sikit. Perak sesuai dengan jiwa saya yang berani hidup berseorangan menghadap badai naik dan turun pasaran. Kalau harga turun menjunam anda masih boleh tenang dan tersenyum, dan harga naik mencanak esoknya masih tenang, simoan, tidak jual, bolehlah pertimbangkan melabur dalam perak. Jika anda berhati tikus, turun harga sekupang dah bising, simpanlah sahaja duit anda dalam bank!
Saya juga ada position perak & emas dalam ETF, menunggu nilai yang sesuai untuk jual semula. Setakat ini rasa amat menyesal.... sebab cuma beli sikit dulu!
Beli hartanah kat negeri Perak border dgn Penang pun ok juga! Tak dapat dah harga rumah sewa murah di kawasan Parit Buntaq tu!
Tanggungjawab dan Ilmu
Dalam dunia pelaburan logam berharga, pemahaman mengenai Nisbah Emas kepada Perak (GSR) adalah sangat kritikal. Selain mengejar keuntungan duniawi, kewajipan ukhrawi tetap menjadi keutamaan. Tahukah anda bahawa sebaik sahaja simpanan perak mencecah 595 gram, ia sudah wajib dikenakan zakat? Alhamdulillah, sudah 10 tahun saya konsisten menunaikan zakat perak ini. Saya pernah menulis dalam FB pengalaman ke Pusat Zakat menunaikan zakat perak - jauh bebeza dengan bayar atas talian. Macam berjumpa ahli keluarga mesranya!
Segala inspirasi dan langkah bijak ini sebenarnya berakar umbi daripada nasihat berhemah Duli Yang Maha Mulia Paduka Seri Sultan Perak, Sultan Nazrin yang pernah saya temui ketika baginda tuanku berada di Kinokuniya, KLCC. Tempat itu ditutup khas untuk Baginda, tanpa pengetahuan saya yang duduk di atas lantai membaca buku-buku mengenai emas dan perak. Ternyata, pesanan seorang Sultan yang berilmu dan berpandangan jauh telah membimbing saya menjadi pelabur yang lebih berdisiplin dan bertanggungjawab. Baginda berpesan, invest in silver, its underrated (pada ketika itu).
Arwah isteri saya penah menulis dalam buku autograph beliau (& kawan-kawan seangkatan MRSM Jasin boleh bersaksi):
Honour your friends whether new or old,
For new are silver, old are gold.
Saya pegang kata-kata arwah sehingga ke hari ini.
AlFatihah untuk isteri tercinta, Neny Endriani bt Hj Bustamal.
Semoga di ampuni & berada dalam pelukan rahmat Allahi.
Aamin.
Selasa, Februari 17, 2026
QARIB I : Sangat Dekat
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِى عَنِّى فَإِنِّى قَرِيبٌ ۖ
وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ
Tapi ubat untuk hati. Ubat untuk ingat. Ubat untuk dekat.
Isnin, Februari 16, 2026
PERHATI
Ahad, Februari 15, 2026
Binaan Haram
Bab 1: Geran yang Menguning
Pak Tua duduk di kerusi rotan yang sudah usang, di beranda rumah kayu di Kuala Selangor. Di hadapannya, sebuah peti besi kecil yang beratnya seperti memikul beban dosa dunia dibukanya dengan kunci yang sudah mula berkarat. Kriekk. Bunyi engsel itu membelah kesunyian malam yang hanya diiringi cengkerik. Di dalamnya, tersimpan sehelai dokumen.
Geran Hak Milik. Tahun 1998.
Beliau mengambilnya dengan hujung jari yang sedikit menggigil. Kertas itu sudah tidak lagi putih. Ia sudah bertukar warna menjadi kuning langsat, kusam dan rapuh di bahagian tepinya—seperti kulit manusia yang dimakan usia. Namun, dakwat hitam yang mencatatkan tanah itu sebagai milik Yayasan Anak Yatim Kuala Selangor masih berdiri tegak. Tegas! Setiap huruf pada nama Yayasan seolah-olah menjerit memberitahu dunia bahawa tanah itu adalah hak anak-anak yatim. Hak!
Dua puluh lapan tahun. Dua puluh lapan tahun aku pegang amanah ini. Tanah ini aku beli dengan duit derma orang ramai, dengan peluh, dengan harapan untuk membina rumah perlindungan buat mereka yang tiada tempat bergantung. 1998! Tahun di mana aku percaya bahawa undang-undang akan melindungi hak anak-anak yatim. Aku pegang kertas ini seperti aku memegang nyawa mereka. Tapi sekarang... tanah ini sedang diinjak-injak oleh mereka yang tidak tahu malu. Tidak tahu malu!
Beliau mengusap cap mohor di atas geran itu. Matanya menerawang ke arah tanah yang kini menjadi punca sengketa, hanya beberapa kilometer dari rumahnya. Tanah itu bukan lagi kosong. Ia telah dicemari oleh struktur-struktur haram yang tumbuh seperti kulat selepas hujan. Setiap kali dia melihat ke sana, dia merasakan dadanya dihimpit. Sempit! Sesak!
Tanah itu adalah masa depan anak-anak yatim. Tanah itu adalah pelaburan untuk akhirat. Tetapi bagi pihak yang menceroboh, tanah itu dianggap 'tanah tidak bertuan' hanya kerana mereka mahu menggunakannya atas nama kesucian. Suci? Mana mungkin kesucian boleh berdiri di atas kebatilan! Mana mungkin doa boleh sampai ke langit jika tapak kakimu berdiri di atas hak anak yatim yang dirampas secara zalim! Zalim!
Di luar, angin malam menderu lemah, membawa bau sungai Selangor yang hanyir. Pak Tua dapat merasakan kedinginan kertas geran itu meresap ke dalam dagingnya. Baginya, geran ini bukan sekadar bukti pemilikan. Ia adalah kontrak antara dia, anak yatim, dan negara.
Namun, selepas dua puluh lapan tahun, dia mula meragui kontrak itu. Dia melihat sekeliling meja—laporan polis yang bertimbun sejak 2018, dan surat-surat peguam yang tidak berbalas. Semua itu nampak seperti sampah di hadapan geran yang menguning ini.
"Lama sangat aku diam," bisik Pak Tua, suaranya serak, tenggelam dalam keheningan malam yang menekan. "Lama sangat aku biar mereka menari di atas kepala anak-anak yatim. Kertas ini... kertas ini tidak akan berdiam diri lagi. Cukup!"
Beliau mengambil telefon bimbit lama, mendail nombor Muhammad Haq, wakil Yayasan yang diupah untuk melakukan kerja berat. Surat lantikan rasmi sudah tersedia. Haq adalah jawapannya. Haq adalah besi yang akan merobohkan kebatilan itu.
Bersambung