Superstage's Heaven
My thoughts actually, unfiltered. A place to record and unload things that I stored in my memories and from the circuits of an ageing pc located somewhere in Shah Alam, Malaysia. "Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis” - Imam Al-Ghazali
Isnin, Februari 16, 2026
PERHATI
Ahad, Februari 15, 2026
Binaan Haram
Bab 1: Geran yang Menguning
Pak Tua duduk di kerusi rotan yang sudah usang, di beranda rumah kayu di Kuala Selangor. Di hadapannya, sebuah peti besi kecil yang beratnya seperti memikul beban dosa dunia dibukanya dengan kunci yang sudah mula berkarat. Kriekk. Bunyi engsel itu membelah kesunyian malam yang hanya diiringi cengkerik. Di dalamnya, tersimpan sehelai dokumen.
Geran Hak Milik. Tahun 1998.
Beliau mengambilnya dengan hujung jari yang sedikit menggigil. Kertas itu sudah tidak lagi putih. Ia sudah bertukar warna menjadi kuning langsat, kusam dan rapuh di bahagian tepinya—seperti kulit manusia yang dimakan usia. Namun, dakwat hitam yang mencatatkan tanah itu sebagai milik Yayasan Anak Yatim Kuala Selangor masih berdiri tegak. Tegas! Setiap huruf pada nama Yayasan seolah-olah menjerit memberitahu dunia bahawa tanah itu adalah hak anak-anak yatim. Hak!
Dua puluh lapan tahun. Dua puluh lapan tahun aku pegang amanah ini. Tanah ini aku beli dengan duit derma orang ramai, dengan peluh, dengan harapan untuk membina rumah perlindungan buat mereka yang tiada tempat bergantung. 1998! Tahun di mana aku percaya bahawa undang-undang akan melindungi hak anak-anak yatim. Aku pegang kertas ini seperti aku memegang nyawa mereka. Tapi sekarang... tanah ini sedang diinjak-injak oleh mereka yang tidak tahu malu. Tidak tahu malu!
Beliau mengusap cap mohor di atas geran itu. Matanya menerawang ke arah tanah yang kini menjadi punca sengketa, hanya beberapa kilometer dari rumahnya. Tanah itu bukan lagi kosong. Ia telah dicemari oleh struktur-struktur haram yang tumbuh seperti kulat selepas hujan. Setiap kali dia melihat ke sana, dia merasakan dadanya dihimpit. Sempit! Sesak!
Tanah itu adalah masa depan anak-anak yatim. Tanah itu adalah pelaburan untuk akhirat. Tetapi bagi pihak yang menceroboh, tanah itu dianggap 'tanah tidak bertuan' hanya kerana mereka mahu menggunakannya atas nama kesucian. Suci? Mana mungkin kesucian boleh berdiri di atas kebatilan! Mana mungkin doa boleh sampai ke langit jika tapak kakimu berdiri di atas hak anak yatim yang dirampas secara zalim! Zalim!
Di luar, angin malam menderu lemah, membawa bau sungai Selangor yang hanyir. Pak Tua dapat merasakan kedinginan kertas geran itu meresap ke dalam dagingnya. Baginya, geran ini bukan sekadar bukti pemilikan. Ia adalah kontrak antara dia, anak yatim, dan negara.
Namun, selepas dua puluh lapan tahun, dia mula meragui kontrak itu. Dia melihat sekeliling meja—laporan polis yang bertimbun sejak 2018, dan surat-surat peguam yang tidak berbalas. Semua itu nampak seperti sampah di hadapan geran yang menguning ini.
"Lama sangat aku diam," bisik Pak Tua, suaranya serak, tenggelam dalam keheningan malam yang menekan. "Lama sangat aku biar mereka menari di atas kepala anak-anak yatim. Kertas ini... kertas ini tidak akan berdiam diri lagi. Cukup!"
Beliau mengambil telefon bimbit lama, mendail nombor Muhammad Haq, wakil Yayasan yang diupah untuk melakukan kerja berat. Surat lantikan rasmi sudah tersedia. Haq adalah jawapannya. Haq adalah besi yang akan merobohkan kebatilan itu.
Bersambung
Sabtu, Februari 14, 2026
Free Malaysia Today bias reporting
The recent reporting by Free Malaysia Today (FMT) exhibits a clear bias by labelling the landowner's representative, Tamim Dahri, and his team as a "mob." This characterization is not a factual report but a deliberate act of framing that sets the stage for a "trial by media."
The term "mob" carries inherent connotations of violence, irrationality, and illegality. It dehumanizes the individuals involved, stripping them of their legal standing as property owners acting within their rights. This label preys on emotion and prevents the public from engaging in a rational analysis of the situation. Crucially, this narrative only works when the full context of the 28-year history is deliberately omitted.
Corrected Timeline & Omitted Facts:
To understand the true story, one must look at the full timeline, which FMT failed to report:
- 1998: The land in question was legally acquired by the owner. This marks 28 years of legal ownership.
- 2018: A contractor hired by the landowner was obstructed from beginning work on the site. A police report was filed regarding this obstruction. This marks the beginning of 8 years of unresolved complaints.
- 2021: A formal eviction notice was served to the occupants. The response from the temple committee included an acknowledgment that they were aware they were on private property. They also allegedly attempted to involve politicians to legitimize the illegal structure.
- 2022: The landowner formally referred the matter to the local council (PBT). The council's response was clear: resolving the issue of illegal encroachment was the landowner's private responsibility. The police were also kept informed through local committees.
- 2022 - 2026: Four more years passed with no enforcement, no resolution. The construction of an orphanage project was halted, and the illegal encroachment became normalized.
- 2026 (The Incident): After 8 years of exhausting all formal channels—police reports, legal notices, negotiations, and council referrals—the landowner legally appointed a representative via a formal Letter of Appointment to exercise their property rights. It was this legal representative who was then labelled a "mob" by the media.
The Collapse of the "Mob" Narrative:
The media's biased narrative was further dismantled by the High Court. The court reviewed the arrests and overturned the remand order issued by a magistrate, ordering the immediate release of Tamim and the others. This judicial decision confirms that there was no solid basis for the accusations of violent, unlawful assembly. The court's ruling fundamentally contradicts the image of a violent "mob" that the media attempted to create.
Conclusion: A Failure of Journalism
FMT's reporting is a textbook example of biased framing. By surgically removing 28 years of legal context—the legal ownership, the police reports, the formal notices, the institutional failures—and focusing solely on the events of a single day, they have created a false reality. The narrative protects institutional failures while painting the aggrieved party as the villain.
This raises a fundamental question: if police reports, legal notices, negotiations, and referrals to authorities over 8 years are not considered sufficient process, then what is the purpose of property law? The Constitution's guarantee of the right to property becomes meaningless if it can be nullified by a biased media narrative.
This is not journalism; it is a dangerous manipulation of public anger. By framing a legal representative exercising a documented property right as a "mob," FMT has attacked the very foundation of justice and the rule of law.
Lanun Digital
Jumaat, Februari 13, 2026
Bintang Penjaga Sempadan
Bab 4: Keringat di Kebun Sayur
Di kebun sayur dan kebun durian yang diteroka secara haram, Raub, kawasan itu bukan sekadar tanah pertanian. Ia adalah lumpur hitam yang menghisap tenaga. Aroma sayur kubis dan sawi yang segar bercampur dengan bau peluh masam dan ketakutan yang hanyir. Ketakutan. Itulah bau yang paling pekat aku hidu setiap pagi sebelum matahari sempat memanjat bukit. Aku adalah seorang PATI.
Aku bekerja dari subuh sampai ke lewat senja. Subuh. Senja. Tangan aku kasar. Kasar dan berparut. Kuku aku hitam. Hitam dikotori tanah. Tanah ni bukan tanah aku, tapi aku yang bagi dia makan. Aku bagi dia keringat. Setiap timun dan strawberi yang aku petik adalah sebutir peluru untuk ‘payung’ kami. Kalau aku berhenti, payung tu akan tutup. Dan bila payung tu tutup, langit akan runtuh menimpa kepala aku. Runtuh!
Malam itu, Tuan Kamarul datang tidak dengan senyuman. Dia datang dengan kasut berat dan lampu suluh yang menyilaukan mata. Kami semua lari bertempiaran seperti tikus tanah. Pak Darman, yang kakinya sudah sembab, tidak sempat lari. Dia tersungkur, mukanya mencium tanah lembab, jatuh tepat di hadapan kasut Tuan Kamarul.
“Tolong, Tuan... Tolonglah saya Tuan. Saya sudah bayar untuk bulan ini. Saya sudah serahkan semuanya pada abang kawasan,” rayu Pak Darman, suaranya pecah, air matanya menitik jatuh atas kasut Tuan Kamarul yang berkilat.
Tuan Kamarul diam. Dia menghisap rokok, asapnya berkepul-kepul menampar muka Pak Darman. Dia memandang Pak Darman dengan pandangan yang kosong, seolah-olah melihat ulat sampah.
"Tuan... kenapa tangkap saya? Kita kan sudah ada perjanjian?" Pak Darman terus merayu.
Tuan Kamarul mencangkung. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Pak Darman. Suaranya perlahan, tapi tajam macam sembilu.
"Kamu ini bukan tak tahu kaedah hidup di sini" Kamarul menyindir.
"Di negaramu juga sama. Tapi di negaraku ini, ada satu kata-kata hikmat yang kami pegang sampai mati. Aku pelajari daripada bangsamu juga semasa di Bandung awal tahun lepas."
Dia berhenti sejenak, tersenyum sinis.
"Jika bisa dipersulitkan... yach... mengapa mau dipermudahkan?"
Pak Darman tergamam. Lidahnya kelu. Tuan Kamarul bangun, mengibas debu pada seluarnya.
"Kalau semua benda mudah, perut aku lapar, Man. Mesin ini tetap kena terus berputar. Malam ni, kau jadi statistik. Bulan depan, kawan kau pula. Itu hukumnya," kata Kamarul sambil memberi isyarat kepada anggotanya untuk menggari Pak Darman.
Gari besi itu berbunyi klik. Satu bunyi yang paling ngeri bagi kami. Pak Darman dibawa pergi dalam gelap malam, meninggalkan satu lohong besar dalam jiwa kami yang masih tinggal. Kami yang dilepaskan bukan kerana sifat ihsan, tetapi kerana kami masih punya tenaga untuk mengumpul 'wang penghargaan' bagi pusingan seterusnya.
Aku melihat dari balik rimbunan buluh. Aku melihat bintang di bahu Tuan Kamarul itu bersinar di bawah cahaya bulan, tapi sinarnya dingin.
Dingin dan mematikan.
Khamis, Februari 05, 2026
Cinta Dwi Frequensi (new)
"Ada rindu yang tidak pernah selesai, walau doa sudah beribu kali dibisikkan ke langit. Ada cinta yang tetap berdegup, walau jasad terpisah oleh bumi dan masa. Dan di antara bunyi statik kehidupan, aku masih mencari frekuensi hatimu – kerana hanya padamu, segala sunyi menjadi bermakna."
Seberang Perai, 2011
Loceng sekolah yang berbunyi tempat jam 1.20 petang hari itu tidak lagi kedengaran seperti muzik yang membebaskan mereka daripada bilik darjah. Bagi Intan, ia kedengaran bagai paluan gendang perang yang menuntut jawapan tentang masa depannya. Di dewan sekolah yang bahangnya masih terasa, kertas keputusan SPM tahun 2010 yang baru sahaja diperolehinya masih digenggam erat.
Zaki, dengan cermin matanya yang sedikit melorot, sedang dikerumuni oleh rakan-rakannya. Angka 10A+ yang tertera di kertas itu bukan hanya sekadar deretan gred; ia adalah tiket kilauan emas.
“Zaki, kau pasti dapat JPA punya! Program Ambang Asuhan Jepun di UM itu memang dicipta untuk orang macam kau,” teriak mamat, salah seorang rakan sekelas mereka, sambil menepuk bahu Zaki dengan rasa bangga.
Zaki hanya tersenyum nipis, namun matanya meliar mencari sosok tubuh Intan. Apabila mata mereka bertemu, Intan segera melarikan pandangan. Di tangannya, keputusan yang diperoleh tidaklah buruk, namun ia bukanlah 'sayap' yang cukup kuat untuk terbang setinggi Zaki.
Januari – Mac 2011: Musim Penantian
Rumah kecil di pinggir kebun getah yang terletak 15 kilometer dari Pekan Kulim itu menjadi saksi kebisuan Intan. Di hadapan skrin komputer yang kusam itu, dia melayari laman sesawang Unit Pusat Universiti (UPU). Jarinya terhenti pada pilihan Diploma Perniagaan di Politeknik Port Dickson.
“Jauhnya sampai ke Negeri Sembilan, Intan,” tegur ibunya sambil mengibas dahan-dahan kering di laman rumah itu.
“Dekat situ saja yang Intan layak, Mak. Lagipun, Intan mahu belajar berdikari,” balas Intan, walaupun dalam hatinya, dia hanya mahu melarikan diri daripada bayang-bayang kegagalan yang dirasakan sendiri.
Sementara itu, di Kuala Lumpur, Zaki sudah mula mendaftar di Universiti Malaya untuk Program Ambang Asuhan Jepun (AAJ). Melalui corong telefon awam, suara Zaki kedengaran agat bersemangat namun sarat dengan rasa kerinduan.
“Intan, saya sudah mula belajar Hiragana dan Katakana. Susah, tapi saya fikirkan awak. Kalau saya berjaya ke Jepun, saya mahu bawa awak keluar dari kesusahan ini. Awak sudah isi UPU?”
Intan menarik nafas panjang. “Sudah, Zaki. Saya pilih Politeknik Port Dickson. Kalau ada rezeki, ke sanalah saya.”
Mei 2011: Dilema Kewangan
Surat tawaran Politeknik akhirnya tiba. Namun, kegembiraan itu hanya bertahan seminit sebelum dipadamkan oleh angka yuran pendaftaran dan kos sara hidup bulanan yang perlu difikirkannya. Ayahnya baru sahaja mengadu tentang harga getah yang merosot akibat musim hujan yang panjang.
“Mak, abah... kalau Intan tidak pergi pun tidak mengapa. Intan boleh kerja di kilang kain dekat bandar,” ujar Intan pada suatu malam, suaranya bergetar menahan tangis. Dia hampir menyerah. Impiannya dirasakan terlalu mahal untuk dibayar oleh peluh ayahnya.
Namun, persahabatan adalah cahaya di lorong yang gelap. Keesokan harinya, dua rakan baiknya, Siti dan Sarah, datang ke rumah. Mereka meletakkan sebuah sampul surat yang agak tebal isinya di atas meja kayu.
“Apa ini?” tanya Intan hairan.
“Kami kumpul sikit-sikit. Ada yang dari simpanan kami, ada yang kami minta sumbangan daripada kawan-kawan sekelas kita yang lain. Mereka tahu kau bijak, cuma kurang bernasib baik, Intan. Jangan biarkan sebab duit, kau lupakan cita-cita kau,” kata Siti tegas.
Intan kaku. Air matanya luruh menimpa sampul surat itu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemurah.
Jun 2011: Perpisahan yang Tragis
Hari keberangkatan Intan tiba. Zaki mengambil peluang cuti hujung minggu pulang ke Pulau Pinang untuk menghantar Intan ke terminal bas Seberang Prai sebelum dia sendiri bersiap menaiki bas untuk pulang menduduki peperiksaan intensif bahasa Jepunnya. Di terminal bas itu, bau asap diesel dan debu jalanan terasa menyesakkan.
“Tunggu saya, Intan,” bisik Zaki. “Dua tahun saya di UM, kemudian lima tahun di Jepun. Itu janji saya.”
Intan memandang beg galasnya yang lusuh. “Zaki, kau akan melihat menara pencakar langit di Tokyo, manakala aku mungkin hanya melihat pantai Port Dickson. Adakah kita akan tetap berada di bawah langit yang sama?” monolog Intan dalam hati, penuh ragu.
“Jangan ragu, Intan. Hanya padamu hati ini saya sandarkan,” Zaki seolah-olah dapat membaca fikiran gadis itu.
Enjin Bas Ekspres menuju ke selatan mula menderu. Intan melangkah naik dengan tekad yang baru. Dia tidak tahu apa yang menantinya di Port Dickson, dan Zaki juga tidak tahu betapa sejuknya salji di Tsukuba nanti. Yang mereka tahu, perpisahan ini hanyalah permulaan kepada sebuah pengorbanan yang tragis namun murni.
Isnin, Februari 02, 2026
Isu laporan polis mengenai binaan haram oleh penceroboh
Adalah dengan ini ditegaskan bahawa pendirian kami sama sekali tidak bersifat perkauman, kebencian agama atau hasutan, sebaliknya berpaksikan kedaulatan undang-undang tanah dan prinsip pentadbiran yang sah di Malaysia.
Sebarang cubaan untuk melabel penguatkuasaan undang-undang sebagai isu kebencian agama adalah satu salah tafsiran undang-undang yang serius dan mengelirukan pihak berkuasa.
1. PRINSIP UNDANG-UNDANG
Prinsip undang-undang Malaysia adalah jelas dan tidak kabur:
1. Tiada mana-mana bangunan, termasuk rumah ibadat, yang dikecualikan daripada pematuhan undang-undang tanah, perancangan dan pembinaan.
Hak beragama tidak mengatasi hak milik tanah dan undang-undang bertulis.
2. KESALAHAN MEMBINA BINAAN HARAM ATAS TANAH ORANG LAIN / TANAH KERAJAAN
Pembinaan bangunan tanpa kebenaran merupakan kesalahan nyata di bawah undang-undang berikut:
(a) Kanun Tanah Negara 1965 (Akta 828)
Seksyen 425 – Kesalahan menceroboh tanah kerajaan atau tanah milik orang lain
Seksyen 426 – Hukuman terhadap pencerobohan
Hak milik hanya sah melalui hakmilik berdaftar
Ketiadaan geran atau Surat kebenaran sah daripada pemilik hartanah yang dicerobohi = tiada hak!
(b) Akta Kerajaan Tempatan 1976 (Akta 171)
- Memberi kuasa penuh kepada PBT untuk:
- Mengeluarkan notis
- Menguatkuasakan perobohan binaan haram.
(c) Akta Jalan, Parit dan Bangunan 1974 (Akta 133)
- Pembinaan tanpa kelulusan pelan adalah kesalahan statutori
(d) Akta Perancangan Bandar dan Desa 1976 (Akta 172)
- Semua pembangunan wajib mendapat kebenaran merancang
- Kegagalan mematuhi mana-mana peruntukan di atas menjadikan binaan tersebut haram ab initio (sejak azali)
3. PRINSIP MAHKAMAH PERSEKUTUAN: PENCEROBOH TIADA HAK
Mahkamah Persekutuan melalui penghakiman-penghakiman penting, termasuk yang diputuskan oleh Tun Mohamed Azlan Shah, telah menetapkan prinsip muktamad:
- Penceroboh tidak mempunyai sebarang hak pampasan, dan
- Pemilik tanah berhak mengambil tindakan “self-help” selagi tidak melibatkan kesalahan jenayah.
Sebarang tuntutan pampasan oleh pihak yang menceroboh tanah adalah bertentangan dengan undang-undang dan bersifat penyalahgunaan proses.
4. BEBAN PEMBUKTIAN TERLETAK KE ATAS PIHAK YANG MENDAKWA
Dalam undang-undang, prinsipnya adalah jelas:
“He who asserts must prove.”
Maka mana-mana pihak yang mendakwa sesuatu binaan adalah sah WAJIB mengemukakan:
- Geran hak milik berdaftar
- Pajakan atau lesen sah
- Kebenaran bertulis pemilik tanah
- Kelulusan PBT dan perancangan
Kegagalan mengemukakan bukti-bukti ini menamatkan sebarang tuntutan yang bertentangan dengan undang-undang secara serta-merta.
Jika tidak, laporan polis yang dikemukakan oleh pihak-pihak ini adalah palsu, mengelirukan isu, berniat jahat (mala fide) dan boleh dikenakan tindakan.
5. ISU HASUTAN TIDAK BOLEH DIGUNAKAN SEBAGAI PERISAI PERBUATAN HARAM
Menegakkan undang-undang tanah:
- bukan kesalahan di bawah Seksyen 298 atau 298A
- bukan hasutan
- bukan kebencian agama
Sebaliknya, menggunakan sentimen agama untuk menghalalkan pencerobohan tanah merupakan satu manipulasi yang membahayakan keselamatan awam dan wajar disiasat.
6. PENYALAHGUNAAN ISTILAH “KEAMANAN NEGARA”
Isu pembinaan haram adalah:
- Isu pentadbiran tanah
- Isu penguatkuasaan undang-undang
- Isu hak milik
Ia tidak boleh dinaik taraf secara sewenang-wenangnya menjadi isu keselamatan negara semata-mata untuk mengelak penguatkuasaan.
7. PERMOHONAN SIASATAN TERHADAP INDIVIDU LAIN
Kami juga menggesa pihak polis menyiasat seorang individu bernama Arun Doraisamy yang:
- Mengaku sebagai seorang peguam tanpa kelayakan sah
- Didakwa tidak berdaftar dengan Badan Peguam Malaysia
- Didakwa berstatus bankrap
Jika benar, perbuatannya mungkin melibatkan kesalahan di bawah:
- Akta Profesion Undang-Undang 1976
- Undang-Undang Kebankrapan
Malaysia ialah negara berteraskan undang-undang (rule of law), bukan negara yang membenarkan pencerobohan dilindungi oleh sentimen agama.
Keharmonian tidak boleh dibina di atas pelanggaran undang-undang. Undang-undang mesti ditegakkan secara konsisten, tanpa pengecualian.
Kepulangan
Bab 1: Titik Biru yang Membisu
Ahmad, seorang pesakit di hospital, menghantar mesej kepada anaknya Anisa meminta dia melawat kerana akan masuk hospital semula. Mesej itu dibaca (ditandakan dua centang biru), tetapi tiada balasan. Ahmad merasa sunyi dan rindu, namun cuba bersabar sambil mengingati ayat Al-Quran tentang ujian dan sabar, serta menggenggam tasbih untuk ketenangan.
Bab 2: Kilas Balik: Dunia yang Kelam
Imbas kembali 15 tahun lalu: Salmah (isteri Ahmad) meninggal dunia. Di tanah perkuburan, Anisa yang baru berusia 10 tahun bertanya bila emak akan pulang. Ahmad memeluk anaknya sambil menangis, berjanji akan sentiasa ada untuknya. Sejak itu, Ahmad berusaha menjadi kedua-dua ibu dan bapa kepada Anisa, belajar melakukan kerja-kerja rumah demi menjaga susur-galur keluarga.
Bab 3: Rutin dan Ruang Kosong
Kini Ahmad tinggal seorang di rumah kayu berhampiran hutan. Setiap pagi dia ke kebun, bercakap dengan pokok-pokok tentang kejayaan Anisa yang sudah bergelar dan bekerja di bandar. Namun, dia batuk berdarah (tanda penyakit serius) dan merasakan dirinya hanyalah orang biasa yang Anisa mungkin malu untuk mengakuinya.
Bab 4: Manis yang Berulang
Ahmad membeli kuih seri muka dan akok seperti biasa di gerai Mak Timah, walaupun Anisa tidak pulang. Dia makan kuih itu sendirian sambil menonton TV, tetapi rasa manisnya tidak mampu menutup kepedihan hati. Kenangan Anisa semasa kecil yang suka kuih itu datang sebentar lalu hilang, meninggalkan kesunyian yang lebih dalam.
Bab 5: Anisa: Dunia Baru
Di pejabat di Kuala Lumpur, Anisa adalah pakar keselamatan siber yang sibuk. Apabila melihat panggilan/mesej daripada "Ayah", dia mengabaikannya. Dalam hati, dia merasakan ayahnya tidak memahami dunianya dan kampung hanya mengingatkan kepada kehilangan ibu serta kemiskinan masa lalu.
Bab 6: Diagnosis dan Kesunyian
Doktor mengesahkan Ahmad menghidap kanser paru-paru tahap tiga dan perlu rawatan segera. Ahmad menerima berita itu dengan tenang, tanpa merungut. Dia meminta doktor tidak memberitahu Anisa kerana tidak mahu mengganggu anaknya.
Bab 12: Pertemuan di Ambang Cahaya
Anisa akhirnya datang ke wad hospital, melihat ayahnya yang sudah sangat lemah dengan tiub oksigen. Dia menangis meminta maaf kerana lambat datang. Ahmad tidak marah; dia hanya tersenyum penuh reda, menepuk tangan anaknya dengan lemah.
Epilog: Kembali
Selepas Ahmad meninggal dan dikebumikan, Anisa menemui diari ayahnya.
Soon!
Sabtu, Januari 31, 2026
Asma' Allah yg Agung
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِاسْمِكَ الْأَعْظَمِ
(Allāhumma innā nas'aluka bismikal-a'ẓami)
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dengan Nama-Mu Yang Maha Agung,
الَّذِي إِذَا دُعِيتَ بِهِ أَجَبْتَ
(Alladhī idhā du'īta bihī ajabta)
yang apabila Engkau diseru dengannya, Engkau perkenankan,
وَإِذَا سُئِلْتَ بِهِ أَعْطَيْتَ
(Wa idhā su'ilta bihī a'ṭayta)
dan apabila Engkau diminta dengannya, Engkau berikan.
نَسْأَلُكَ بِإِنَّا نَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ
(Nas'aluka bi innā nasyhadu annaka antallāhu)
Kami memohon kepada-Mu dengan pengakuan kami bahawa Engkaulah Allah,
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْأَحَدُ الصَّمَدُ
(Lā ilāha illā antal-aḥadus-ṣamadu)
tiada tuhan selain Engkau, Yang Maha Esa, Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu,
الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
(Alladhī lam yalid wa lam yūlad)
yang tidak beranak dan tidak diperanakkan,
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
(Wa lam yakun lahū kufuwan aḥadun)
dan tiada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.
أَنْ تَغْفِرَ لَنَا ذُنُوبَنَا
(An taghfira lanā dhunūbanā)
Agar Engkau mengampunkan bagi kami segala dosa kami,
إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
(Innaka antal-ghafūrur-raḥīmu)
sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Pemohonan:
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِاسْمِكَ الْأَعْظَمِ
الَّذِي إِذَا دُعِيتَ بِهِ أَجَبْتَ
وَإِذَا سُئِلْتَ بِهِ أَعْطَيْتَ
Pengakuan Tauhid:
نَسْأَلُكَ بِإِنَّا نَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ
لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ الْأَحَدُ الصَّمَدُ
الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Permintaan:
أَنْ تَغْفِرَ لَنَا ذُنُوبَنَا
إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Muara Rindu (draf)
SINOPSIS
Di bawah rintik hujan koridor batu Kamsis UKM, tiga jiwa terikat dalam ukhuwah dan pencarian makna. Aliza yang tenang, Huda yang berwibawa, dan Amran yang mencari kekuatan usai kehilangan bapanya. Apabila Amran berkelana ke Kelantan untuk penyelidikan dan Huda terbang ke Jordan demi impian sarjana, ukhuwah mereka diuji oleh jarak dan rahsia hati yang terpendam. Ini adalah kisah tentang kesabaran menanti di muara takdir, di mana cinta sejati adalah tentang membawa hati lebih dekat kepada Sang Pencipta.
BAB 1: Rintik Pertama di Kampus
Kampus UKM bergema dengan bunyi kasut pelajar di koridor batu. Aliza, gadis Fakulti Syariah yang gemar berbaju kurung pastel, sentiasa memeluk erat kitab Al-Muwatta’ sebagai perisainya. Berbeza dengan Yuni yang sederhana dan Huda, senior yang penuh wibawa dengan jubah neutralnya. Mereka bertiga bertemu di perpustakaan untuk tugasan Falsafah Sains Islam, namun hati Aliza sebak; sudah tiga hari Amran, jurudebat Bahasa Arab yang dikaguminya, tidak kelihatan.
BAB 2: Langkah Berat di Koridor
Khabar duka tiba—ayah Amran meninggal dunia dalam kemalangan. Kampus terasa sunyi bagi Aliza. Koridor Fakulti Ekonomi yang biasanya riuh dengan pidato Amran kini lengang. Aliza merindui susuk Amran yang sering memakai kemeja rona tanah dengan beg messenger kulit uzurnya. Bayangan itu kini kosong.
BAB 3: Perpustakaan dan Sunyi
"Mari kita buat research untuk tolong dia," usul Huda. Mereka mengumpul bahan untuk tugasan International Trade Law milik Amran. Aliza mencatat bibliografi dengan teliti sambil bermonolog: Buku Fiqh tidak mengajar cara mengetuk hati yang luka dengan pelan, seperti senja...
BAB 4: Ziarah yang Tak Terucap
Seminggu kemudian, Amran kembali dengan wajah pucat dan mata yang kusam. Aliza memberanikan diri menyerahkan fail rujukan yang mereka siapkan. Suara Amran parau saat mengucapkan terima kasih. Fail itu dipegangnya erat, seolah-olah itulah satu-satunya benda nyata yang boleh dipegang hari itu.
BAB 5: Dialog di Bawah Hujan
Di bawah bumbung koridor saat hujan lebat, Amran berkongsi kisah ayahnya, seorang pemandu teksi. Dia kesal kerana terlalu sibuk mengejar gelaran 'hebat' sehingga lupa mendengar cerita kepayahan ayahnya. Kehadiran sunyi Aliza memberi ruang untuk Amran bernafas semula.
BAB 6: Tugasan Berkelompok dan Pemulihan
Mereka digabungkan dalam satu kumpulan ekonomi. Amran mula menunjukkan fokus, membahagikan tugas dengan tajam. Dia meminta Aliza merujuk Kitab Al-Amwal karya Imam Abu Ubayd. Kepimpinan Amran mula kembali.
BAB 7: Senja di Taman Kampus
Berjalan pulang ke hostel, Amran berterima kasih kepada Aliza atas ketenangannya. "Kehadiran kau yang tenang... ia macam kopi pagi. Tak heboh, tapi dah jadi satu keperluan yang dirindui."
BAB 8: Mula yang Baru
Tugasan mereka mendapat markah tertinggi. Amran tersenyum tulus buat pertama kali. Aliza sedar, cinta bukan seperti di filem; ia tentang memilih untuk berada di sana melalui hujan lebat kehidupan.
BAB 9: Kereta Api ke Timur
Amran ke Kelantan untuk penyelidikan pascasiswazah. Di dalam kereta api, dia menggenggam nota Aliza: "Selamat merantau." Dia gementar dengan dialek Kelantan yang asing baginya.
BAB 10: Stesen Bas Kota Bharu
Di tengah kesibukan Stesen Jalan Hamzah yang uzur, Amran bertemu Huda secara tidak sengaja. Huda, anak jati Pasir Mas, terkejut namun gembira melihat Amran di buminya.
BAB 11: Niat Menemui Seorang Guru
Huda mencadangkan Amran menemui Tok Guru Nik Aziz di Pulau Melaka untuk mendapatkan bimbingan hidup, bukan sekadar data akademik.
BAB 12: Di Masjid Belakang Rumah
Amran mendengar kuliah Tok Guru. Walaupun dialeknya pekat, pesanan tentang dunia sebagai pinjaman meresap ke hati.
BAB 13: Temuramah Hati ke Hati
Tok Guru menasihati Amran agar tidak hanya melihat ekonomi, tetapi melihat hati masyarakat. Beliau juga mengesan kesedihan Amran dan berpesan: "Sabar itu cahaya (dhiya')."
BAB 14: Perjalanan Pulang dengan Makna Baru
Amran pulang dengan hati yang ringan. Dia menghantar mesej kepada Aliza: "Bukan dapat data, tapi dapat sesuatu yang lebih besar."
BAB 15: Rahsia di Sebalik Debaran
Di sebalik tabir, Huda sebenarnya menyimpan rasa sejak pertemuan di stesen bas itu. Dia mahu mengajak Amran ke rumah, namun malu menghalang. Dia menyimpan perasaan itu, percaya pada rezeki takdir.
BAB 16: Di Sebalik Skrin
Di perpustakaan UKM, Aliza tidak sengaja terlihat mesej Amran di telefon Huda tentang pertemuan mereka di Kelantan. Hati Aliza retak, menyedari ada garis cerita yang dia tidak tahu.
BAB 17: Debaran
Huda mendapat tawaran sarjana ke Universiti Yarmouk, Jordan. Dia menangis di hadapan Aliza, mengaku cintanya pada Amran namun rasa sudah terlambat.
BAB 18: Persiapan dan Hikmah Seorang Ayah
Ayah Huda, Encik Halim, menasihati agar Huda pergi belajar dengan tenang. "Kalau jodoh, jauh ke hujung dunia pun dia akan datang."
BAB 19: Di KLIA - Perpisahan Tak Terduga
Saat Huda mahu berangkat, Amran muncul dalam keadaan tercungap-cungap setelah memandu laju dari Johor.
BAB 20: Doa dan Janji di Balik Awan
Amran mendoakan Huda dengan doa Nabi: "Astawdi'ukillah..." (Aku menitipkanmu kepada Allah). Dia berjanji akan menunggu Huda pulang.
EPILOG: Di Muara Penantian
Dua tahun berlalu. Huda pulang dari Jordan. Aliza dan Amran menanti di balai ketibaan.
Jumaat, Januari 30, 2026
Pelaburan Emas dan Perak: Mengapa Tidak Sama dengan Aset Lain?
لاَ يَسْتَوِي مَنْ يَعْلَمُ وَمَنْ لاَ يَعْلَمُ، وَلاَ يَسْتَوِي مَنْ يَعْمَلُ وَمَنْ لاَ يَعْمَلُ
أَلذَّهَبُ وَالْفِضَّةُ
- Simpanan Nilai (Store of Value): Sejarah membuktikan emas dan perak mengekalkan kuasa beli untuk jangka masa yang sangat panjang, berbeza dengan wang kertas yang mudah mengalami inflasi.
- Pelindung Kekayaan (Hedge Against Uncertainty): Dalam situasi ketidakstabilan ekonomi, geopolitik, atau matawang, logam berharga sering menjadi tempat perlindungan yang selamat (safe-haven asset).
- Aset Ketakterhinggaan (Tangible Asset): Anda memegang fizikalnya. Ini berbeza dengan saham atau wang digital yang wujud sebagai nombor di skrin.
أَعْمَالُ الْمُسْتَثْمِرِ الْحَكِيمِ
- Mempelbagaikan Portfolio: Tidak meletakkan semua dana dalam satu jenis aset. Emas dan perak adalah komponen penting dalam diversifikasi.
- Membeli Secara Berkala (Cost Averaging): Konsisten membeli sedikit demi sedikit tanpa mengira pasaran naik atau turun, mengurangkan risiko.
- Membezakan Jenis Pelaburan: Memahami perbezaan antara emas fizikal (jongkong, syiling), akaun emas, atau ETF. Setiap satunya mempunyai risiko dan kelebihan tersendiri.
- Menyimpan untuk Jangka Masa Panjang: Melabur dalam logam berharga adalah seperti maraton, bukan pecut. Kesabaran adalah kunci.
Ahad, Januari 25, 2026
LAPORAN POLIS
LAPORAN POLIS
Sangkut Nombor: (Diisi oleh PDRM)
Tarikh:
Balai:
BUTIRAN LAPORAN
Saya dengan ini membuat laporan polis berhubung penyalahgunaan proses undang-undang jenayah melalui satu laporan polis yang mengandungi dakwaan palsu, mengelirukan serta tidak berasaskan fakta dan undang-undang, berkaitan isu pembinaan bangunan dan rumah ibadat yang didakwa sebagai isu hasutan, kebencian agama dan keselamatan negara.
1. KEDUDUKAN ISU SEBENAR
Isu sebenar yang dipertikaikan ialah pembinaan bangunan secara haram di atas tanah, tanpa kebenaran pemilik tanah atau tanpa kelulusan pihak berkuasa, termasuk pembinaan di atas tanah milik Kerajaan Negeri, Kerajaan Persekutuan dan/atau tanah agensi, syarikat milik Kerajaan.
Isu ini adalah isu undang-undang tanah dan pentadbiran, dan bukan isu agama atau perkauman.
Pendekatan ini adalah konsisten dengan prinsip rule of law yang telah lama ditegaskan oleh Mahkamah Persekutuan.
2. UNDANG-UNDANG TANAH & PRINSIP MAHKAMAH PERSEKUTUAN
(a) Penceroboh tidak mempunyai hak undang-undang
Mahkamah Persekutuan telah menetapkan bahawa: Seseorang yang menceroboh tanah tanpa hak tidak memperoleh sebarang kepentingan undang-undang ke atas tanah tersebut.
Prinsip ini antara lain ditegaskan dalam kes:
Sidek bin Haji Muhamad & Ors v Gvovernment of Malaysia [1982] 1 MLJ 313 (FC)
Mahkamah Persekutuan, telah memutuskan bahawa penceroboh tidak berhak menuntut pampasan, dan hak hanya timbul melalui pemilikan sah di sisi undang-undang.
(b) Tiada pampasan kepada penceroboh
Mahkamah secara konsisten memutuskan bahawa:
Pampasan tidak boleh diberikan kepada pihak yang memasuki atau menduduki tanah secara salah (unlawful occupation).
Ini adalah prinsip teras yang dipetik berulang kali dalam kes-kes tanah dan pengambilan balik tanah.
(c) Prinsip “self-help” oleh pemilik tanah
Mahkamah juga mengiktiraf bahawa:
Pemilik tanah berhak melindungi hak miliknya dan mengambil langkah munasabah untuk mendapatkan kembali tanahnya, selagi tidak melibatkan kesalahan jenayah.
Prinsip ini ditegaskan dalam beberapa penghakiman Mahkamah Tinggi dan Mahkamah Persekutuan berkaitan pencerobohan tanah.
3. BEBAN PEMBUKTIAN – AKTA KETERANGAN 1950
Di bawah Seksyen 101 Akta Keterangan 1950:
“Sesiapa yang mendakwa sesuatu fakta, beban membuktikannya terletak ke atas pihak tersebut.”
Oleh itu:
Pihak yang mendakwa sesuatu binaan adalah sah WAJIB mengemukakan bukti seperti:
- Geran hak milik berdaftar;
- Pajakan atau lesen/kebenaran sah;
- Kelulusan pelan pembinaan pihak berkuasa tempatan.
Kegagalan berbuat demikian menjadikan dakwaan tersebut tidak berasas di sisi undang-undang.
Saya merujuk kepada prinsip undang-undang "those who comes to Equity must come with clean hands".
4. SALAH GUNA UNDANG-UNDANG JENAYAH
Saya mendapati laporan polis berkenaan telah secara salah:
1. Menaik taraf isu pentadbiran tanah kepada isu hasutan dan keselamatan negara tanpa asas fakta
2. Mengaitkan individu tertentu dengan niat jahat dan ekstremisme tanpa bukti
3. Mengelirukan pihak polis untuk memulakan siasatan jenayah yang tidak sepatutnya. Perbuatan ini berkemungkinan merupakan kesalahan di bawah:
(a) Seksyen 182 Kanun Keseksaan
– Memberi maklumat palsu kepada penjawat awam dengan niat mencetuskan siasatan atau memudaratkan pihak lain
(b) Seksyen 211 Kanun Keseksaan
– Membuat tuduhan palsu dengan niat mencederakan reputasi atau menyebabkan prosiding jenayah dimulakan
Mahkamah telah menegaskan bahawa: Undang-undang jenayah tidak boleh digunakan sebagai alat tekanan, intimidasi atau propaganda.
5. PRINSIP MAHKAMAH: PROSES JENAYAH TIDAK BOLEH DISALAHGUNAKAN
Mahkamah Malaysia berulang kali menegaskan bahawa:
- Laporan polis mestilah dibuat secara jujur dan berfakta, bukan dengan niat jahat (mala fide).
- Laporan palsu atau mengelirukan adalah penyalahgunaan proses keadilan
- Proses jenayah tidak boleh digunakan untuk menutup pelanggaran undang-undang sivil atau pentadbiran.
- Perbuatan membuat laporan palsu kepada penjawat awam adalah merupakan kesalahan jenayah.
6. PERMOHONAN KEPADA PIHAK POLIS
Sehubungan itu, saya memohon pihak polis supaya:
1. Menilai laporan asal tersebut berdasarkan prinsip undang-undang tanah dan keterangan
2. Menyiasat sama ada wujud kesalahan di bawah:
- Seksyen 182 Kanun Keseksaan; dan
- Seksyen 211 Kanun Keseksaan.
3. Mengelakkan penggunaan undang-undang jenayah sebagai alat sentimen agama.
4. Menegakkan prinsip kedaulatan undang-undang secara objektif dan konsisten.
PENUTUP
Laporan ini dibuat bagi memastikan undang-undang ditegakkan mengikut prinsip Mahkamah Persekutuan, dan supaya proses jenayah tidak disalahgunakan untuk melindungi perbuatan yang jelas bertentangan dengan undang-undang Malaysia.
Sekian laporan saya.
Nama:
No. KP:
Alamat:
No. Telefon:
Tandatangan:
